26 February 2012

Mendadak

... saya sensi lagi sama orang-orang ini. Dan yang dimaksud dengan "orang-orang ini" di sini bisa menjadi 2 hal buat sekarang. Pertama, para petinggi di lab itu. Jadi dalam beberapa postingan kemarin saya sempat ngamuk-ngamuk karena dianulir dari seleksi peserta workshop ke UCLA dan Michigan University secara tidak adil hanya karena alasan konyol bahwa saya tidak punya visa efektif untuk masuk US. Padahal kalau mau adu-aduan baik dari abstract riset maupun english proficiency, saya yakin ga bakal ter-kick out dari kuota yang ditentukan. Baru beberapa minggu kemarin adem, eh tau-tau curi dengar info dari para anak doktor di lab (yang rata-rata anak China) bahwa mereka lagi ngurus visa buat berangkat ke program yang sama. W.T.H. Kemarin kan katanya... arghhhhhhh. Oh ya satu lagi, berdasarkan bocorannya, ternyata yang diterima juga jauh lebih sedikit dari kuota yang waktu itu disebutkan. Apa-apaan. Kan ini jelas-jelas mengada-ada.

Kedua, semua masyarakat pelajar Indonesia yang berdomisili di wilayah komisariat Nagoya. OK, ini majas totem pro parte sih. Sebetulnya hanya untuk sebagian orang yang ga bisa diajak "kerjasama" dalam segala urusan yang terkait dengan check-outnya saya dari jajaran kepengurusan PPI. Hmpfhhh, tapi kalau ini kayaknya mau ga mau mesti dihadapi dengan kepala yang sedingin mungkin (sambil nabur es serut di atas ubun-ubun). Seminggu lagi. Abis itu tinggal nyuci tangan.

Ah, masih ada beberapa hal yang ditunggu hingga bulan April-May. Semoga masih ada puing-puing kebahagiaan yang tersisa di depan sana (apa sih).

14 February 2012

After 2 Years: Pt II

OK, sekarang tentang part II-nya. Sebelumnya saya sudah mencoba membahas tentang salah satu lokasi spesifik tempat saya menghabiskan beberapa porsi waktu setiap harinya dengan seobjektif mungkin (yang mana tetap saja ga bisa objektif sih kayaknya, huhu). Sekarang saya akan membahas tentang kota yang sudah saya anggap rumah dalam dua tahun terakhir. Ya iyalah mesti dianggap rumah. Mau ga mau.

Yaitu: Nagoya.

Sebelum ada yang salah kaprah, saya bukannya mau membahas kota Nagoya yang ada di Indonesia (hmm, saya curiga ga banyak yang tahu bahwa di Batam sebetulnya ada kota yang bernama seperti ini. Check this: http://iguide.travel/Nagoya_%28Indonesia%29). Tapi saya membahas kota yang katanya terbesar ketiga di Jepang, dan juga termahal ketiga di dunia setelah Tokyo dan Oslo (saya lupa ini siapa yang survei dan tahun kapan).

Well, secara geografis Nagoya terletak di Jepang bagian tengah, menjadikan kota ini sangat strategis buat jalan-jalan, karena ga terlalu jauh kalau lagi mau ke arah barat dan selatan (misalnya: Kyoto, Osaka, Hiroshima, Kyushu, dll) dan ga terlalu jauh juga kalau mau ke arah utara dan timur (misalnya: Tokyo, Sendai, gunung Fuji, Fukushima (kalau ada yang mau liat reaktor nuklir, hehe)). Kalau menurut beberapa orang Indonesia yang tinggal di sini, Nagoya mirip dengan Surabaya (saya sih belum pernah singgah terlalu lama di Surabaya jadi percaya aja deh, dan saya juga ga ngerti deh ini in-terms of apanya). Nagoya bukan kota dengan jumlah penduduk terpadat seperti Jakarta kalau di Indonesia, masih ada Tokyo dan Osaka yang lebih metro, tapi juga bukan sub-urban jadi ga bisa dibilang sepi juga. Bagi sebagian orang yang suka pusing kalau terlalu ramai, sepertinya Nagoya tempat tinggal yang cukup ideal. Hmm, kalau buat saya? Saya sih mungkin tipe yang menikmati kesendirian dalam keramaian. Halah. Tapi benar sih, kadang suka ngerasa bahwa Nagoya agak kurang rusuh (apa coba).

Dari segi fasilitas, khususnya transportasi. Dulu saya percaya bahwa pembangunan di Jepang sudah merata, sampai akhirnya saya tersesat di gunung-gunung dan sawah-sawah di daerah Nagano dan Gifu, nunggu kereta berjam-jam (pas lagi puasa pula itu), sampai akhirnya terpaksa bayar ekstra buat naik yang ekspres. OK, ternyata daerah-daerah sub-urban di sini juga masih banyak. Tapi untungnya Nagoya bukan gunung. Dari salah satu kelas yang pernah saya ambil di Civil Engineering, Nagoya secara infrastruktur adalah kota hybrid antara public dan private transport (kalau bisa narok daftar pustaka saya refer deh di sini). Tokyo dan Osaka boleh bangga dengan jalur kereta mereka yang jelimet dan ga mungkin dihafal, plus stasiun-stasiun yang ga pernah idle. Nagoya adalah kota yang paling ideal untuk punya kendaraan sendiri. Masalahnya biaya parkir di sini ga separah di Tokyo atau Osaka. Barangkali ada hubungannya denga Nagoya adalah kota besar terdekat dari headquarter salah satu produsen otomotif terkuat di dunia. Apalagi kalau bukan Toyota! Pernah ada yang bilang, Jepang itu ga ada apa-apanya, sampai kemudian di tahun 1937 Kiichiro Toyoda bikin manuver jenius dari perusahaan tekstil bokapnya jadi industri otomotif. Lokasi headquarter Toyota ga persis dalam Nagoya sih, tapi mereka punya "kota" sendiri yang bernama Toyota City. Kayak hubungan Depok sama Jakarta lah. IMHO, barangkali ini juga sebabnya kenapa harga tiket kereta di Nagoya relatif lebih mahal, karena banyak pengguna mobil pribadi. Yah, walaupun buat saya yang hanya bisa bergantung pada sektor transportasi publik, keuntungan seperti ini ga banyak ngaruh juga sih. Tapi seengganya sisi positif yang bisa diambil, sesarden-sardennya orang di kereta pas lagi rush-hour, ga pernah tuh sampai disumpel-sumpelin ke dalam gerbong kayak di ibukota. Hihi. Tadinya sih ngarep bakal bisa punya motor 1000++ cc di sini, tapi ternyata karena ga bisa apply SIM Jepang pakai SIM Indonesia saya yang udah mati, batal deh. Eh bisa sih, tapi mesti ikut proses ujian SIM dari awal yang biayanya bisa jadi lebih mahal dari kendaraannya sendiri. Ga jadi deh. Kemarin pas pulang sih udah perpanjang SIM lagi, cuman karena rencana mau sampai PhD di sini batal, kayaknya sayang kalau mau diusahakan dari sekarang. Huhu

Poin berikutnya tempat tinggal, adalah salah satu alasan lain untuk menetap di Nagoya. Saya sering mendapat info dari teman-teman yang banyak di Tokyo dan Osaka tentang harga apartemen mereka. Emang sih bukannya ga mungkin buat mendapatkan apartemen dengan harga terjangkau, tapi biasanya perlu jarak yang lebih jauh dan harus pintar nyari. FYI, saya menghabiskan 34-ribu yen per bulannya untuk sewa kamar sebesar 21 meter persegi (cukuplah buat punya kapal pecah sendiri, hoho), 3-5 menit jalan kaki dari stasiun terdekat, dan 15 menitan jarak tempuh sepeda ke kampus. Makanya walaupun harga tiket kereta di Nagoya relatif mahal, saya ga harus makai kereta tiap hari. Dan oh yah, kabar bagus bagi yang mau tinggal bersama pasangannya, di sini juga sangat mudah buat mendapatkan "Jutaku". Hmmm, apa yah terjemahannya? Public Housing? jadi semacam apartemen yang disubsidi pemerintah gitu deh. Tebak harga sewa per bulannya berapa. Rata-rata cuman sekitar 10-ribu yen, malah ada yang kurang. Sayangnya sih cuman buat yang udah punya pasangan. Buat kasus ini saya setujulah orang yang kawin rejekinya juga berlebih. Huhu.. Tapi seriusan, dengan harga segitu, plus tarif parkir yang ga selangit, kebanyakan para mahasiswa yang tinggal di sini bersama keluarganya pada punya mobil sendiri. Mewah? Bisa jadi lebih murah daripada single-ers macam saya ini.

Fasilitas hiburan. Hmmm, saya rasa istilah hiburan di sini agak relatif. Jadi pertama saya fokus pada kemudahan buat belanja. Semua juga pasti udah tahu kalau mendapatkan barang-barang terbaru di Jakarta jauh lebih mudah daripada di 30.000 pulau lainnya di Indonesia. Dengan analogi yang sama mestinya Tokyo lebih komplit dibanding kota-kota non-ibukota. Itu pikiran pertama saya dulu, apalagi karena Tokyo punya Akihabara yang sangat terkenal itu. Weits, ternyata saya salah. Terlepas dari Nagoya juga punya "shopping center" kayak Osukannon (buat yang mau window-shopping doang, saya sih ga suka), saya bisa belanja online dari mana saja (apalagi sejak punya kartu kredit, makin susah deh buat nabung). Emang sih di Indonesia juga bisa pakai Kaskus atau forum-forum internet lainnya, tapi sering terjadinya kasus penipuan bikin was-was kan kalau mau beli barang tapi ga bisa ketemuan dulu. Akhirnya belanjanya ya sama penjual-penjual di daerah yang sama juga. Jadi intinya, untuk urusan belanja, ga ada masalah yang berarti sih di Nagoya. Sejauh ini selalu ada tempat kalau mau nyari sesuatu. Kalau ga ada, tinggal buka Amazon, Yahoo auction, Rakuten, atau apa kek. Hmmm, lalu fokus berikutnya soal hiburan apa dong yah? Buat saya sih yang menghibur itu kalau engga melakukan sesuatu yang saya suka atau bareng orang yang saya suka. Halah. Kalau soal tempat wisata, nilai minus besar buat Nagoya sih. Dalam kota yah. Kalau di daerah-daerah yang sekitar 40-60 menit dari pusat kota sih banyak. Tapi siapa juga mau ke tempat wisata berulang-ulang. Jadi ga dalam kota juga gapapa sih. Hoho.

Salah satu alasan lain kenapa saya kadang (engga kadang juga sih) suka ngerasa ga hepi di Nagoya adalah kenyataan bahwa saya ga punya teman. Buhuhu. Sedih amat yak. Bukannya bilang ga ada yang saya kenal. Jumlah orang Indonesia di Nagoya sebenarnya cukup banyak kok. Walaupun ga sebanyak di sekitaran Tokyo (dan mungkin Kyoto, Osaka), tapi seengganya ga terlalu sedikit sampai ngerasa "ga punya komunitas", sekaligus ga terlalu banyak sampai "kok banyak orang Indo yang ga dikenal yah atau entah-siapa dan saya-juga-ga-peduli-dia-siapa". Tapi tetap saja, kalau saya mau strict dengan istilah "teman", saya sangat menyedihkan di sini. Mungkin karena kebanyakan pada ga seumuran jadi gaulnya beda, atau mungkin saya aja yang emang nerd. Huhu. Kadang suka ada yang nanyain: "Kok lo kayaknya kalau lagi mau jalan, perginya sendirian aja sih?" Biasanya sih saya haha-hehe doang, walaupun sebenarnya jawabannya, mungkin karena conditional buat bisa merasa terhibur (kayak yang direfer di atas tadi) ga terpenuhi. Huhu. Eh kok jadi ngomongin ini, kan mestinya ngomongin Nagoya.

Jadi, bagaimana kesimpulannya? Bagi yang merasa bisa deal dengan faktor-faktor yang saya sebutkan di atas silakan consider buat pindah ke Nagoya suatu saat. Kalau saya sih masih mengganggap kota ini rada kurang menghibur. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, di mana sih yang iya? Huhu. Bukan salah Nagoya-nya juga sih kayaknya.

Saya tutup postingan ini dengan salah satu quote yang mestinya keren deh. They said that "If you are not happy NOW and HERE, then you will never be". Buhuhuhu, gawat juga kalau itu benar.

10 February 2012

After 2 Years: Pt I

Walaupun sebetulnya judulnya kurang tepat karena minus 1.5 bulan lagi sebelum genap 2 tahun saya bernafas pertama kali di atas kota ini. Eniwei...

If someone asked: "how is your life there", probably I will come up with the answer: "Japan was my dream place to live in". OK, sebelum lebih jauh, postingan kali ini bukan bertujuan untuk mengeluhkan hal-yang-sama (like always, and even this will sound like the same). Sekedar mencari kerjaan di sela-sela kekosongan waktu (boong deng kalo bilang ga ada kerjaan, ada pe-er besar tuh yang namanya 'riset').

Sebaiknya saya koreksi pernyataan di atas. Since I do not suppose to blame the whole country while I am just living in a small part of it. Moreover, I was often referring my-so-beloved-lab when I mentioned 'Japan'. It is not quite true image after all. XD. So instead, marilah kita bahas perihal hidup di Nagoya selama genap 97 minggu. Postingan kali ini saya bagi menjadi dua, bagian pertama adalah tentang sebagian kecil bilangan blok di kawasan Furo-cho, distrik Chikusa ini. Apalagi kalau bukan gedung yang mesti saya kunjungi hampir setiap harinya.

Jadi, ada beribu satu alasan untuk saya merasa tidak betah di sini. Salah satunya adalah lab tercintah. Dulu pertama kali datang, saya disambut seorang tutor dari Brazil berdarah Jepang. Dari luar dia tampak seperti orang Jepang dengan kemampuan bahasa Inggris luar biasa, sampai kemudian dia bilang: "You can talk anytime to me when you find a hard time here. I did through the same thing before". Terbukti kemudian sepanjang tahun pertama, saya dibikin nervous akan banyak hal. Literally, sepanjang tahun pertama. Entah berapa kali saya jadi bahan lelucon di sini. Tahun kedua sedikit lebih baik. Anak-anak yang tadinya ga pernah inisiatif ngajak saya ngobrol, atau yang pasif pas diajak ngomong, seengganya mulai merespon. Pak guru walaupun masih sangat bisa dikategorikan sebagai "orang jahat" kadang mulai menunjukkan pengakuan terhadap hasil kerjaan saya (walaupun pada kesempatan berikutnya dia akan mulai lagi dengan statement andalannya: "this is still a preliminary result..." kapan hasil benerannya dong?). Dan ah iya, satu lagi yang cukup annoying, dia sekarang selalu ngajak ngomong pakai bahasa Jepang. Bahkan diskusi riset sekalipun. Ketahuilah Bapak, bahwa semua orang berubah kepribadian pada saat mereka berganti bahasa. Dalam kasus saya, saya berpikir bahwa saya adalah seorang nerd pada saat berbahasa Jepang, seorang yang sotoy pada saat berbahasa Inggris, dan seorang yang super awesome pada saat bicara bahasa sendiri.... OK, bagian terakhir agak ga benar (atau sebetulnya saya adalah seorang nerd yang sotoy pada saat ngomong bahasa Indo???)

Ada yang bilang Fukuda Lab adalah salah satu lab yang paling 'angker' di Nagoya University, seengganya bagi anak engineering, khususnya departemen mechanical engineering dan micro-nano system. Saya pernah nanya ke anak-anak Jepang di lab, dan rata-rata pada bilang gini: "Ini bukan pilihan saya. Kenapa saya bisa di sini? Yaa karena saya tidak bisa tembus lab pilihan pertama, sedangkan semua orang harus bergabung dengan lab di tahun terakhir (undergraduate program)". Siapa yang mau masuk lab yang tiap bulan disuruh presentasi sepanjang hari Sabtu, belum termasuk miting minggu intra-tim, dan kadang suka dipanggil mendadak progress-report ke ruangan? Bahkan orang kerja kantoran aja punya jadwal libur yang lebih pasti. Saya antara tak percaya dan lega. I am not the only one who ended up here because it was chosen. Jadi apakah alasan di balik image itu?

Kakek guru adalah seorang pioneer di bidang robotics. Kalau berdasarkan sini: http://en.wikipedia.org/wiki/Self-reconfiguring_modular_robot, dia yang pertama kali propose soal cellular robot, yang kemudian banyak di-refer pada riset modern soal self-reconfigurable robot dan distributed robotics system hari ini. Hasil yang seperti ini tentunya bukan dari kerjaan instan semalam. Wajar kalau akhirnya dia punya standar dan ekspektasi yang tinggi terhadap riset-riset yang disupervisi olehnya. Saya malah dikatakan beruntung, karena tingkat 'kekerasan' yang terjadi di jaman si kakek guru masih muda dulu jauh di atas yang terlihat hari ini. Karena katanya sekarang dia udah mulai santai dan menikmati masa tuanya. Urgh, I can't imagine what kind of hell those old people have to walk through. Kakek guru juga pernah menjadi salah satu Director di IEEE region Asia Pacific. 2 atau 3 tahun lalu kalau ga salah. If you wonder which IEEE I mean here, yup that one which come in your thought right now. That scientific organization yang kalibernya kita sudah sama-sama tau lah. And he was a director there. Pas hadir di conference New Zealand kemarin saya ga pernah tau, tiba-tiba si Kakek guru muncul sebagai salah satu keynote speaker. Pas si MC bacain CV-nya dia, saya jadi speechless sendiri dibuatnya. Pas ke Itali sebelumnya juga, tau-tau si organizer summer schoolnya adalah teman lama si Kakek guru. Haduh. Somehow saya jadi ingat salah satu quote yang saya bahkan tak tahu darimana asal mulanya. They said that, what does not kill you makes you stronger. Atau kalau versi si Joker, kata terakhir diganti jadi stranger. Both are true, I guess.

So, being somewhere else is what I expect? Well, pas ngeliat orang lain punya lebih banyak waktu luang buat hang-out ke sana ke mari (eh atau kemari?), saya iri. Lebih iri lagi sama orang yang pas pengen pulang bisa pulang gitu aja. Malam ini kangen pulang, besoknya ke ruangan sensei, bilang: "Sensei, saya mau pulang dong!" Terus senseinya bakal: "OK, it is your right after all. Send my best regards to your family!" Packing barang, terus kabur 1-2 bulan foya-foya di negara sendiri. Huffff. IRI. SUPER IRI. Yaah, walaupun sebetulnya saya ga se-home-sick itu sih. Tapi, dengan adanya aturan tak tertulis bahwa saya tak bisa pulang kapan saja, it is something else. Belum termasuk tiap kali ada perlu dengan si Kakek guru, misalnya ada dokumen yang dia mesti tanda tangan, dia tak pernah ada di ruangan. Entah lagi di negara inilah, atau negara itulah. Pagi ini balik ke Jepang, sorenya terbang lagi ke negara yang beda. Huhu... Bagian terbang-terbang ke negara lainnya saya iri juga deh. Tapi di sisi positifnya, sebagai salah satu umat yang terlahir dengan energi potensial maksimum dan energi kinetik minimum (baca=pemalas), saya ga bakal kerja kalau ga dipush habis-habisan. Emang sih kerjaan saya sejauh ini masih sejauh preliminary result (quote pak guru), tapi beberapa kali saya sempat diduga mahasiswa doktor atau diduga sudah mau lulus sekarang. Yaa karena banyak yang bilang ga wajar mahasiswa tahun pertama udah punya publikasi. Hehe. Selalu ada hikmah baik dalam setiap hal kan? Lain lagi bahwa salah satu hal yang paling sering dibanggakan Pak guru adalah: "Fukuda Lab adalah salah satu lab terkaya di Jepang". Yah, saya tak tahu seberapa benar pernyataan ini. Apa sekedar statement tanpa alasan atau memang tingkat kekayaan lab-lab di Jepang diukur secara statistik. Tapi kalau ngeliat alat-alat mahal semacam mikroskop ini mikroskop itu (saya bahkan tak bisa membedakan satu sama lainnya) yang bertebaran di lab yang propertinya entah ada di berapa gedung sebetulnya, saya percaya kalau lab ini tidak miskin. Belum lagi, punya puluhan mahasiswa, tiap mau gakkai (conference) ke luar ga ada masalah, pasti dibayarin. Kadang sekali jalan bisa sampai belasan orang. Itung aja, misalnya reimburse yang bakal saya dapat (nyinggung reimburse lagi) bisa mencapai 300 ribu dari perjalanan ke New Zealand kemarin, dikali 10 orang aja itu udah 3 juta. Yen! Itu sekali jalan. Setahunnya? Entah yah, mungkin banyak lab lain yang sama sebetulnya, tapi cukup sering juga saya dengar teman-teman yang bahkan mesti nombok sendiri biaya perjalanan gakkainya. Kadang biaya conference ga ditanggung, kadang hotel ga ditanggung, kadang malah biaya pesawat mesti bayar sendiri. Jadinya kadang suka mikir, apa saya minta digaji aja yah biar lebih hepi? Huhu.

Kesimpulannya: If I look back again, things probably get better to this day. Yah, selama ga ada hal yang bikin geregetan aja sih, toh saya udah bertekad meminimalisir kemungkinan terjadinya konflik (padahal kayaknya baru kemarin aja abis ngamuk-ngamuk lagi, huhu). Being in this lab might be not the best decision I ever made. Kalau ditanya apa saya mau di tempat lain, jawabannya sih tetap iya tentu saja. Hoho. Tapi karena ini tidak sepenuhnya keputusan yang saya buat sendiri waktu itu, saya yakin ada "campur-tangan" takdir di dalamnya. Tuhan tak pernah salah dalam membuat skenario kok. Lalu jika saya ditanya, anggaplah oleh seorang lain di luar sana yang sedang menimbang-nimbang akan ke sini juga, saya akan jawab: unless you think you are though enough, you may consider different option. Hidup 3 tahun itu ga sebentar (walaupun ga lama juga sih kalau mikir ke belakang), jadi pertimbangkan baik-baik apakah rela kebahagiaan anda direnggut selama itu. Ganjarannya: bisa saja berpuluh-puluh tahun di masa depan yang lebih cemerlang. Saya ngomong 'bisa saja' loh barusan. In my case, I used to think that I loved to be challenged. Makanya dulu pas sekedar dengar-dengar isu Fukuda Lab pas masih di Indonesia pura-pura cuek aja. Ternyata...... sampai di sini kayaknya saya harus mengakui bahwa limit saya ternyata jauh di bawah yang saya perkirakan (makanya kok ya pede itu jangan berlebihan). hehe. Yah, at least I hope I can get my payback in the future.

Bersambung ke part II. Berikutnya bahas Nagoya secara umum.

02 February 2012

Jadi...

Alasan dia adalah karena saya ga punya visa efektif untuk masuk US.

Nyari alasan banget sih. Masih ada waktu 1 bulan untuk aplikasi. Memang ga ada kepastian soal jangka waktu kapan visanya bakal bisa diissue ataupun kepastian bakal dikasih atau engga, tapi percaya deh, selama dokumen yang diminta lengkap ga bakal ada masalah. Saya apply visa italy waktu itu aja seminggu sebelum berangkat masih bisa dapat (normalnya dibilang bisa 2-3 minggu waktu proses padahal). Sempat kali kalau mau usaha!

Lagian, gimana caranya saya bisa punya visa sebelum ada urusan yang jelas di sana. Kalau mau nyalahin waktunya yang udah giri-giri (bahasa Indonesianya: mepet?), salah siapa program yang udah diannounce dari desember baru disebar dua hari sebelum deadline.

" From the next time, we can set sufficient time for application". You must be joking! How can I decide to stay until "next-time" in the place where I can't demand the equality. Once you need your name on some publications you-do-not-even-do-anything-to-help, who do you chase first? Fuck you!

31 January 2012

Senewen

Urusan urus-mengurus visa sebetulnya ga ribet kalau semua pihak bisa diajak kerjasama. Tapi bagi orang-orang yang ga pernah butuh visa kalau mau kemana-mana, mana bisa mengerti hal ini. Saya sebetulnya iri dengan para jepang ini, mereka bisa nyaris ke semua sudut di penjuru bumi hanya dengan menggunakan paspor. Ga perlu ribet ngurus itinerary dari dua atau tiga bulan sebelumnya. Ga perlu ngurus surat ini dokumen itu. Kepikiran mau pergi kemana, bisa langsung berangkat besoknya selama ada duit. Bahkan ada seorang teman (atau kenalan) yang udah sering jalan ke luar negeri, tapi ditanya visa bahkan kayaknya ga ngerti itu apaan. Tapi kalau buat warga Indonesia raya tercinta? Hayo, sebutin negara mana aja yang bisa dimasuki tanpa visa? Buat pemegang paspor hijau loh yah. Emang sebetulnya ada beberapa sih, cuman sayang sekali bukan daerah-daerah yang bakal kepikiran kalau tiba-tiba disuruh sebut nama negara secara random.

Lalu saya juga paling ga suka kalau digantung kayak begini. Kemarin udah ngirim email ke bapak profesor yang terhormat bahwa jika mau pergi saya butuh urus visa. FYI Sir, urusan visa ini bisa makan waktu berbulan-bulan (terutama negara yang udah punya image visa issuance-nya sangat ketat). Belum lagi saya harus bela-belain naik kereta beberapa jam demi mencapai itu konsulatnya cuman buat hand-over dokumen. Jadi tidak bisakah saya mendapat balasan dari email saya itu? Yang saya butuhkan hanyalah surat rekomendasi dari Anda, plus kalau saya boleh minta surat undangannya sekalian, bukti akomodasi dan segala macamnya. Yes, they always ask, Sir! Dan sekarang waktunya hampir nyisa sebulan pas. Bayangkan kalau tiba-tiba ditolak atau ga kekejar deadlinenya, bagi kita-kita yang perlu daftar visa ini berapa duit yang bakal kebuang coba. Ga bakal ada yang mau nanggung kan ntar kerugiannya?

Huhuhu, udah bela-belain juga datang ke office-nya dia hari ini. 2 kali. Lampunya sih nyala, tapi diketok ga ada yang nyahut. Sedangkan saya mulai resah, ditambah masih adanya urusan progress-report buat akhir pekan plus final-report buat kelas terakhir semester ini. Bisa juga ditambahin urusan ngurus ski-trip sih. Huhuhu.

Jadi. Balik lagi ke paragraf pertama, saya pernah bertanya (sama anak departemen luar negeri): kenapa sih Indonesia ga membuka "kerja-sama" aja sama negara-negara hebat itu biar ga usah pakai visa-visaan? Kalau Jepang aja bisa kenapa kita engga? Jawabannya panjang lebar, dan sejujurnya saya masih belum terlalu menangkap alasannya sih (maklumlah pengetahuan terbatas dan hanya melihat dari sudut pandang konsumen). Lalu jadi kepikiran: kenapa ga jadi warga negara lain aja kalau gitu. Huhuhuhu. Nanti deh kalau saya sudah jadi "orang hebat" sampai diinginkan di negara mana saja #ngayal

23 January 2012

Not Fair

Jadi ternyata dalam pertemuan kemarin ada info "berharga" yang saya lewatkan karena kebetulan sedang berada di luar ruangan. Kenapa mesti diumuminnya pada saat itu? Dan sekarang bingung mau nanya siapa. Huhuhu... Di sini doang kayaknya "bertanya" itu jadi suatu hal yang susah.

And the other thing is, kemarin kayaknya presentasi terlama sepanjang sejarah zemi. 30 menitan lebih. Yang paling annoyed bukan itu, tapi justru karena yang ditanyain hal teknis yang mestinya dipertanyakan dari sebulan yang lalu. Jadinya kan kerjaan-kerjaan yang terakhir ga jadi waste.

Hari ini diminta datang diskusi lagi. Entah kayaknya saya harus berhenti pura-pura ngerti bahasa Jepang. Diskusi bahasa Inggris aja saya masih suka ngawang-ngawang ngikutinnya, apalagi sekarang tau-tau pakai bahasa yang arrrrggghh... apa itu. Mana dikasih 2 buku (bahasa Jepang) suruh pelajarin.

As expected slide yang saya bikin cuman bakal "dicomot" beberapa hal yang dirasa penting doang. Disuruh tambahin lagi dengan update diskusi hari ini sebagai future works. Tau gitu kan ngirim dari kemarin aja (tapi masalahnya kan ga tau, huhu). Masih mengenai pemodelan yang saya bikin sebulan lalu yang tiba-tiba sekarang disalahkan. OK, saya akui mereka ada poinnya. Saya ga nge-handle failure detection. Sistem yang saya kembangkan tidak adaptif, di mana adaptivity adalah salah fitur paling berharga dari "distributed robot". Ga usah tanya kenapa. Tapi slide yang sama saya presentasikan sebulan yang lalu. Ga ada komen. Akhir tahun saya minta masukan, disuruh kirim by email, saya kirim ga ada jawaban, pasti ga dibaca. Sekarang, pas sebulan kemudian saya tunjukkan hasilnya baru di-point out.

"Can you fix it in 2 days?" said him. Errrr,,, saya ngerjainnya itu nyaris 2 bulan terakhir, mau pakai mejik apa bisa dibenerinnya dalam 2 hari? Ya ngulang lagi, tunggu hasil barunya paling cepat 2 bulan ke depan lah, Bapak. Ah sudahlah.

(annoyed)

22 January 2012

Orang bijak pernah berkata

.... "Ada dua hal yang harus dipilih secara hati-hati, karena sepanjang sisa hidup akan dihabiskan dengan keduanya, yaitu: istri dan pekerjaan". Saya tidak akan bahas soal yang pertama, oleh karena itu saya akan bahas yang kedua saja (hukum reasoning trivial).

Jadi, pertama kalinya dalam hidup saya berpikir soal pekerjaan adalah pada saat ada yang bertanya pada si rizki mardian kecil; "Apa cita-citamu kalau sudah besar kelak (entah seberapa besar maksudnya)?". Dengan gampang saya akan menjawab: "Arsitek!" tanpa harus tau arsitek itu apaan, ngapain dan gimana. Ada 2 alasan simpel. Pertama, karena dari kecil saya suka menggambar, hobi yang entah berenti sejak kapan. Kedua, karena jawabannya berbeda dengan anak pertama di keluarga kami yang memilih jadi insinyur (seriously, now i think that most people from that time did not really understand what 'insinyur' is, dan sepertinya stereotipenya memang insinyur adalah karakter manusia yang sukses, selain jadi dokter tentunya). OK, sebenarnya ga ada alasan khusus saya membahas ini, hanya saja sepertinya itu adalah bayangan pertama yang pernah muncul di otak saya --sejauh yang bisa saya ingat-- tentang karir dan pekerjaan.

Kemudian dalam masa belasan tahun setelahnya, berbagai image dan sepertinya karena pengaruh media juga mulai menodai keinginan saya untuk menjadi arsitek tadi. Yang saya ingat saya pernah ingin jadi dokter (juga), ilmuwan / profesor (maksudnya yang bekerja di lab dengan mencampur-campur ramuan kimia berbahaya), penulis, pemusik, dan lain-lain. Saya akan skip hingga suatu poin, pada saat awal smp kalau ga salah, seperti kebanyakan anak awam lainnya, saya mulai keracunan video game. PS waktu itu lagi marak-maraknya. Somehow, saya 'kenalan' dengan sebuah game yang berjudul "Final Fantasy" (game bikinan Squaresoft (sekarang Square-enix) yang menurut saya adalah karya jenius dan hingga sekarang masih menjadi favorit saya tentu saja). Seri yang ke-9, mungkin saya penasaran kenapa untuk 1 game saja bisa sampai butuh 4 keping CD. Yang terjadi adalah: I was stunned! Square-enix dari dulu emang udah terkenal dengan FMV yang bisa bikin ga ngedip-ngedip. Lewat FFIX juga saya kenalan dengan genre RPG yang bisa bikin saya ga keluar kamar 24 jam (pas bulan puasa bahkan dari sahur sampai buka, saya literally ga beranjak dari depan konsol). Saya patah hati ketika FFX dirilis, pertama kalinya untuk PS2. Sepertinya orang tua saya sudah kapok membelikan konsol game, karena terbukti tidak menunjang nilai rapor saya waktu (kenapa rapor selalu dijadikan parameter -_-"). Padahal kalau boleh bilang, FF adalah salah satu alasan kenapa saya hari ini bisa bahasa Inggris. Saya selalu menolak pas orang tua mau mendaftarkan saya les, tidak seperti RM1 dan RM3 yang nurut-nurut aja pas didaftarkan ke LIA, hoho (yes, I was such a rebel :D). Alih-alih, saya belajar banyak dari game-game jenis ini, simply karena saya ingin mengerti jalan ceritanya, agar saya bisa menamatkan gamenya dengan sempurna. Main game sambil buka kamus. Hoho. Singkat cerita, dari hari itu saya bercita-cita akan membuat game suatu saat kelak dan impian tergilanya: nama saya akan tercantum di credit-title "Final Fantasy" entah-seri-ke-berapa-pun-itu-kelak! Dan dengan segala kesotoyan waktu itu, saya menyimpulkan bahwa orang yang bikin game itu adalah programmer (a.k.a mesti jago komputer, kayaknya teracuni dari felem-felem kalau ini). Jadi saya akan jadi programmer setelah lulus sekolah. Itu harga mati! (nyatanya engga sih, wkwk).

Loncat lagi ke beberapa tahun setelahnya, ternyata saya masih di keputusan yang sama pada saat lulus SMA, maka hanya ada satu jurusan yang bisa saya pikirkan untuk melanjutkan studi. Yeah, you know what. Saat semua orang masih bingung: "SPMB mau ngisi pilihan apa ya?" tekad saya sudah bulat, hanya saja karena khawatir dicecar (ya iyalah, orang-orang "papan atas" aja ga berani bilang mau masuk mana karena takut ga bakal lulus, masak iya orang "papan tengah" kayak saya bisa ngomong dengan pede), saya ikutan pura-pura bingung juga kalau ditanya. Puncaknya, H minus berapa gitu sebelum pengembalian formulir, saya telponan sama orang tua. Mereka agak khawatir dengan nilai-nilai TO saya yang agak ga menjanjikan, saya diminta mengganti pilihan yang lebih reasonable, misalnya *** di *** (sensor, hehe). Sepertinya itu pertama kalinya saya sampai harus menangis buat meyakinkan orang lain apa yang saya mau (doh). Anyway, worth it juga sih. My mom buy in, and she help convincing dad (jadi terharu, hiks). Lalu dimulailah masa-masa indah itu.

Pas kuliah, saya set target lulus secepat-cepatnya lalu merintis upaya jadi programmer. Lagi-lagi saya harus patah hati menerima kenyataan bahwa programmer itu katanya adalah (mohon-maap) kasta terendah dari praktisi IT. Ya ga bisa dong kalau begitu dijadikan long-life plan. Buhu. Belum lagi kenyataan bahwa buat bisa bikin game ga cukup dengan bisa ngoding doang (tahun-tahun pertama saya cukup antusias memulai klub game-programming sama beberapa orang yang sepaham, walaupun ternyata ga jalan juga, hoho). Ada yang namanya game designer dan many stuffs which is more art-related than problem solving (akhirnya saya ambil kelas Game Design pertama kali itu di fakultas seni di NTU). 3 tahun kuliah akhirnya pelan-pelan menghapus impian saya buat jadi game developer. Walaupun saya masih lebih menikmati kuliah "ngoding" daripada kuliah "matematik". Kalau misalnya saya ditanya, apa masih punya cita-cita saat itu, mungkin jawabannya adalah "ikut arus" kebanyakan orang yang kuliah di jurusan IT. Kelar kuliah secepatnya, gabung dengan (sebisa mungkin) top-level company, flownya dari programmer ke analyst ke ... (apalagi yah? hehe.. gitu deh). Pernah juga kepikiran gimana kalau start-up IT company sendiri, pengaruh beberapa kali ngerjain freelance project. Makanya juga akhirnya saya fokus ke kelas-kelas peminatan software engineering dan system analysis waktu itu. Hingga detik-detik sebelum semester terakhir, entah kesambet apa saya banting stir ke AI. Saya ambil topik skripsi tentang robotik. Saya ga akan cerita banyak soal apa saja yang terjadi selama saya bergabung dengan lab ini. Bahkan saya ga akan cerita apa-apa, karena semua sudah pada tahu. Hohoho. Anyway saya lulus juga dengan judul skripsi terpanjang sedunia itu. Dan setelah melewati masa-masa pelik, ke sana kemari sampai dicap secara sepihak bahwa "saya adalah kutu loncat dengan kesetiaan yang dijual pada pembayar tertinggi". (haha, masih-sensi mode = ON) akhirya sampai juga saya di negara ini (credit to MEXT).

Saya akan kembali ke topik soal pekerjaan. Intinya kenapa saya menulis panjang-panjang adalah bahwa saya mulai merasakan ada hawa-hawa saya harus mulai memikirkan apa yang akan terjadi setelah Maret 2013. Mungkin tekanannya datang dari anak-anak seangkatan di lab yang lagi pada sibuk nyari kerja. Mungkin juga dari teman-teman di benua lain yang segera akan menyelesaikan kuliah mereka. Bisa jadi juga karena pertanyaan antar sesama penerima beasiswa di sini: tahun depan bakal perpanjang ga (sampai PhD maksudnya)? Sedangkan saya, mau jadi apa? Haruskah saya jadi arsitek lagi??? Padahal lesson-learned dari nonton HIMYM, arsitek adalah orang yang sulit mencari jodoh (doh, mulai ngawur).

Sebetulnya ide menggelitik soal jadi game-developer (lagi) sempat muncul sih. Maksudnya, saya sekarang di Jepang. InsyaAllah ntar bakal lulus dengan sertifikat dari universitas di Jepang. Reasoning sepihak, chance buat nyari kerja di Jepang juga lebih baik (tentu dengan mesti sedikit usaha belajar bahasa Jepang dong). Dan.... ada Square-Enix di Jepang. Nyambung maksudnya? Yah, simply it is not easy to give up something that you really wanted in the past. Bayangkan aja kayak misalnya pada ketemu cinta-pertama dulu. Pas rasanya ekhem-ekhem kan. Halaah. Anyway, should I consider to give a shot? Maksudnya mengingat sekarang saya agak terlalu jauh "murtad" dari jalur ke sana. Pertama dari IT-practitioner ke computer scientist, trus 'disesatkan' juga oleh para guru itu ke jalur nano-technology. Kalau saya balik lagi ke jaman-jaman saya masih menggilai hardcore programming dan all graphics things, ga rela juga udah nangis darah selama beberapa waktu terakhir. Saya ga bakal pernah menyentuh lagi dunia molecular-robot yang sudah saya mulai ini. Pikiran lainnya berarti bahwa saya tetap di jalur yang sekarang ada di depan saya. OK, idealnya aja (baca=ngimpi)... saya akan bekerja keras berusaha mewujudkan si distributed robot made from DNA ini, kemudian tau-tau pada suatu pagi saya berhasil menciptakan robot biologis pertama di muka bumi, lalu robot-robot ini akan menjadi modal utama saya buat menciptakan bio-hazzard yang membuat saya dapat menuntaskan misi untuk menguasai dunia.................. well, definitely thas is not the idea. Dont take it seriously. Tapi, yaa intinya saya ga ingin berakhir dalam pola hidup yang membuat saya bosan. Kebanyakan evil mastermind berbuat jahat terdorong atas rasa bosan. Maksud seriusnya, saya pernah nyoba kerja jadi orang "kerja kantoran". Walaupun kerjaan bejibun, saya dengan modal kehilangan motivasi karena yang dikerjakan tiap hari flownya selalu sama. Seorang manajer bisa menjadi manajer setelah dia cukup pengalaman, setelah dia berulang-ulang mengerjakan hal yang sama terus menerus selama beberapa tahun. Dia menjadi ahli.

Tanpa bermaksud arogan, tapi yang bisa saya nikmati adalah mengerjakan sesuatu hal baru. Dengan riset misalnya, (mestinya) selalu ada hal baru. Pertanyaan-pertanyaan yang ketika terjawab akan mengarahkan pada pertanyaan baru lainnya. Seems neverending memang dan pada akhirnya para researcher-researcher ini akan mati meninggalkan rasa penasaran yang mungkin saja akan terjawab di masa depan tapi dia takkan pernah tahu (saya ngomong apasih ini). Intinya, kalau memang saya segitunya menikmati riset kenapa dong mesti ngamuk-ngamuk kalau para professor itu bangkit penyakit trollingnya? Well, jika disuruh menyebutkan apa yang salah dari semua keluhan-keluhan saya selama ini, saya tidak akan bilang saya tidak suka risetnya sih. Saya akan bilang bahwa saat ini hanya "kebetulan" berada di lingkungan yang kurang kondusif untuk beberapa alasan. Hehehe.

Entah kenapa saya cukup yakin di luar sana ada lingkungan lain yang mungkin bisa lebih membangun saya, yang mana mengarahkan saya pada pilihan lain: saya akan tetap melanjutkan beriset (baca = PhD), tapi di lab atau bahkan di negara lain. Plusnya, infer sendiri dari paragraf barusan. Minusnya, saya harus berkorban waktu. Jepang uniknya punya tahun ajaran yang beda sendiri dari kebanyakan negara di dunia. Yang bikin saya harus "buang waktu" hampir setahun sebelum akhirnya diberangkatkan. Belum lagi tambahan masa research student. Orang-orang yang wisuda barengan aja udah pada dapat gelar master pas saya baru mau mulai. Nah, kalau mau out lagi dari sini tentu mesti disesuaikan dong. Seengganya bakal ada 6 bulan yang mesti "dihamburkan". Itu juga kalau udah langsung dapat, di mana proses pencariannya sendiri kalau berdasarkan pengalaman sebelumnya bisa makan hampir setahun. Tua duluan dong (atau emang harus mulai nyari info dari sekarang aja yah?)

Yasudahlah, daripada saya melanjutkan tulisan tanpa kesimpulan ini lebih jauh, saya akan mengakhiri di sini. Karena besok masih ada diskusi dengan Pak Guru yang merupakan lanjutan kemarin karena saya "dibantai" nyaris 30 menit lebih dan beliau masih belum puas. Semoga saya cepat dapat ilham mau milih yang mana.

Tentu tanpa harus mengingatkan bahwa saya juga masih harus membuat pilihan sulit lainnya tentang hal pertama yang disebutkan si orang bijak. Huhuhu